Kata Bijak, Kata Mutiara dan Kisah Motivasi

Kumpulan Kata Bijak dari Akun Facebook Tere Liye

Kata Mutiara
Jangan membuang waktu percuma dengan berusaha menjelaskan sesuatu pada orang yang tidak mau mendengarkan lagi.
Jangan habiskan waktu sia-sia dengan berharap sesuatu pada orang yang sudah tidak lagi peduli.
Jangan pernah menambatkan harapan pada orang lain.
Semua orang akan berubah. Tidak ada yang menjamin besok lusa, orang yang hari ini amat kita sayangi, ternyata menjadi orang yang paling kita benci.
Semua orang punya waktu yang sama di dunia ini. 24 jam dalam sehari. 60 menit dalam sejam. Dan 60 detik dalam semenit.
Maka berhentilah mengeluh jika hidup kita ternyata lebih susah dibandingkan orang lain. Karena boleh jadi, kita tidak pernah sungguh2 menggunakan waktu tersebut sebaik mungkin, lebih banyak yang sia-sia, habis percuma. Sementara orang lain, sungguh2 menghargai tiap detik waktunya dengan terus produktif dan berkarya.
Pengkhianat akan menyakiti kita; dan mereka akan berlagak, merekalah yang sedang disakiti.
Itu rumus abadi. Mulai dari urusan perasaan, sampai pengkhianat urusan berbangsa dan negara, sama tabiatnya. Berhati2lah dengan apapun yang disebut pengkhianatan
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, peta, satelit, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana menjaga kehormatan perasaan dengan tidak melanggar nilai2 agama.

darwis tere liye facebook tere liye quotes darwis tere liye quote blog darwis tere liye darwis tere liye twitter  cinta  novel rindu kata bijak  kehidupan
Kata Bijak Tere Liye

"Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.”
“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan.
Karena sebenarnya yang tahu persis kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.
Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetapi kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”
Jangan berkecil hati jika orang lain hanya mengingat kita saat butuh pertolongan, dan cuek bebek jika tidak, seolah tidak kenal lagi.
Karena dengan demikian, sebenarnya malah keren, kita dianggap seseorang yang amat penting dalam hidupnya.
Orang sungguh baik itu bukan karena berharap balas, apalagi penuh perhitungan, tapi semata karena dia berharap janji Tuhannya.
Orang sungguh sabar itu bukan karena terpaksa, tidak ada pilihan, tapi semata karena dia memutuskan percaya pada Tuhannya.
Orang sungguh berani itu bukan karena sedang ramai, banyak yg membela, tapi semata karena dia bergantung pada Tuhannya.
Senyum terbaik yang pernah kita lihat, boleh jadi menyimpan masa lalu yang getir. Tatapan mata paling tulus yang pernah kita temui, boleh jadi menyimpan pengalaman hidup yang berat dan panjang.
Tapi pemilik senyum dan mata itu tidak hancur, dia justeru bisa mengubahnya menjadi kebaikan.
Orang kuat itu bukan berarti dia selalu kuat. Tidak. Melainkan dia tahu sekali kapan harus berjuang habis-habisan, kapan harus siap tulus melepaskan.
Mau tampan, mau jelek, yg penting hatinya baik.
Mau kaya, mau miskin, yg penting selalu dermawan.
Mau pekerja kantoran, mau serabutan, yg penting bertanggungjawab.
Boleh pengin semuanya, tp fokuslah pada: yg penting-nya.

"Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, buat apa kau mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain"
Jika kita mencari seseorang yang sempurna, maka sampai kiamat, kita tidak akan memperolehnya.
Lebih baik fokus kepada: apakah seseorang itu mau terus memperbaiki dirinya, dan bisa memberikan bukti kongkret dia memang melakukannya
Cara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali.
Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi.
Jika kita melihat seorang (wanita) yang begitu tangguh, kuat, dan mandiri, maka jangan lihat dia sekarang berdiri tegak di sana begitu mengagumkan.
Tapi tanyakanlah, seberapa banyak hal, orang, peristiwa menyakitkan yang telah dia lewati, yang membuatnya menjadi semakin kuat.
Kecantikan seorang wanita, tidak dilihat dari wajahnya, fisiknya, apalagi dari pakaiannya. Tapi lihatlah dari matanya. Wanita yang sederhana, teguh, berwawasan, setia, mandiri, jujur, berakhlak baik, berprinsip, sungguh menyenangkan melihat bola matanya. Begitu menawan. Begitu membawa kedamaian--bahkan walau dengan tampilan yang sangat bersahaja.
Ada orang-orang yang jatuh cinta, tapi tidak ditakdirkan bersama.
Ada orang-orang yang bersama, tapi tidak jatuh cinta.
Ada pula orang-orang yang jatuh cinta, ditakdirkan bersama.
Hidup ini memang begitu2 saja. 7 milyar manusia di atas bumi; tiap detik, setidaknya ada yang jatuh cinta, pun tiap detik, ada yang berpisah. Jadi, tidak perlu galau, sakit hati, sesak, toh, penulis skenario hidup kita adalah yang maha mengetahui. Dijalani saja, apapun ujungnya. Syukur2 happy ending.
Jika sesuatu itu mudah sekali datang dan pergi dalam hidup kita, maka itu simply memang bukan hal spesial.
Termasuk seseorang, jika dia mudah sekali memutuskan datang dan pergi, itu juga bukan hal spesial.

Sayangi teman-teman yang masih mau mendengarkan keluh kesah kita.
Karena hari ini, banyak yang seolah memperhatikan seluruh kalimat kita, tapi sebenarnya satu kata pun tidak dia dengarkan.
Jika kita ingin berubah, maka berubahlah karena diri sendiri. Jangan berubah karena orang lain.
Besok lusa, orang2 bisa berubah, kita juga bisa kecewa kepada orang lain.
Segala sesuatu yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu.
Pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap.
Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka, itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita.
Tidak pernah orang yang banyak bicara itu disebut pintar, pun juga bijak. Juga tidak pernah orang yang selalu bicara setiap hal disebut jenius, pun juga cendekia.
Melainkan orang-orang yang tahu persis kapan harus bicara, kapan harus diam. Melainkan orang-orang yang tahu persis dia paham masalahnya maka dia angkat bicara, jika tidak, dia memilih diam.
"Cinta pertama itu tidak spesial; karena yang paling spesial adalah cinta terakhir dan itu selama-lamanya. Tetapi jika kalian beruntung, akan lebih spesial lagi jika cinta pertama itu sekaligus menjadi cinta terakhir dan selama-lamanya.
Situasi ini hanya terjadi jika kita menjaga perasaan kita dengan baik, bukan setiap saat bisa jatuh hati ke siapapun, cepat sekali GR, lantas dinyatakan dengan mudah sekali, untuk berganti cinta lagi juga dengan mudah."
Waktu dan Jarak tidak bisa mengalahkan persahabatan sejati. Justeru membuatnya semakin cemerlang.
Cinta itu boleh jadi melepaskan harapan2, merelakan keinginan2, bahkan tulus membiarkan pergi demi kebaikan.
Karena apapun yang terjadi, maka akan terjadilah. Tidak akan tertukar. Yang terbaiklah yang terjadi.
Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga. Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

Kata Bijak
Back To Top